Dual Gap


Sumber keuangan dari luar negeri (baik berupa hibah dan pinjaman) dapat memainkan peranan yang penting dalam usaha melengkapi kekurangan sumber daya domestik guna mempercepat pertumbuhan devisa dan tabungan. Pendekatan inilah yang disebut analisis bantuan luar negeri “dua kesenjanagan”. Model kesenjanagan ini mengatakan bahwa negara-negara berkembang umunya menghadapi kendalaberupa keterbatasan tabungan domestik yang jauh dari mencukupi untuk menggarap segenap peluang investasi yang ada, serta kelangkaan devisa yang tidak memungkinkan untuk mengimpor barang-barang modal dan perantara yang penting bagi usaha penggunanya. Secara umun ini berasumsi bahwa kekurangan atau kesenjangan (antara persediaan dan kebutuhan) Tabungan (saving gap) serta kesenjangan devisa itu tidak sama bobotnya dan satu sama lain berdiri sendiri (artinya keduanya tidak saling menggantikan). Kekurangn tabungan tidak dapat digantikan dari cadangan devisa dan begitu juga sebaliknya, kekurangan devisa tidak pula dapat dipenuhi oleh tabungan dalam negeri. (Asumsi ini memang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, tetapi asumsi tersebut memag perlu diadakan dalam rangka emudahkan analisis matematisnya).
Implikasinya bahwa salah satu dari kedua jenis kesenjangan tersebutakan lebih “dominan” atau menjadi “belenggu” bagi negara berkembang dalam waktu tertentu. Apabila kesenjangan tabungan lebih dominan, maka negara tersebut mencapai kondisi “full employment” atau pendayagunaan segenap faktor produksi atau sumber daya secara penuh adn juga tidak menggunakan semua pendapatan devisanya. Bank sentral mungkin memiliki valuta asing yang cukup untukmembeli barang-barang tambahan dari luar negeri, tetapi para agen tidak menyimpan cukup pendapatan untuk membeli barang tersebut, lalu mengimpor barang-barang modal. Sebuah negara yang memiliki ekurangan tabungan tidak mampu atau tidak mau mengalihkan daya beli dari barang konsumsi kebarang modal, baik dibeli didalam negeri maupun luar negeri. Akbatnya akses valuta asing, termasuk bantuan asing mungkin dibelanjakan pada import barang-barang konsusi mewah. Contoh yang paling tepat untuk negara-negara yang mengalami kesenjangan tabungan adalah negara-negara Arab pengekspor minyak pada dekade 1970-an, namun perlu dicatat disini bahwa analisis kesenjangan tabungan ini mengandung kelemahan yang fatal, yakni kemungkinan kelebihan devisa tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk membeli sumber-sumber produktif, misalnya Arab Saudi dan kuait yang menggunakan kelebihan petrodolar  mereka untuk menyewa tenaga kerja dari negara-negara berkembang non-OPEC, baik yang berada di kawasan mereka maupun dari kawasan lainnya.
      Hampir semua negara-negara berkembang dikelompokan kedalam kategori kedua; mereka hampir mengalami kekurangan devisa, dan kendala itu merupakan faktor utama yang menghambat usaha-usaha pembangunan mereka. Negara-negara ini mempunyai kelebihan sumber-sumber produktif (terutama tenaga kerja) dan semua pendapatan devisa yang ada habis digunakan untuk import. Dengan demikian, adanya tambahan sunber daya dalam negeri  akan memungkinkan mereka untuk melaksanakan proyek investasi-investasi baru, asalkan tersedia sumber-sumber keuangan yang memadai (termasuk dari luar negeri) untuk mengimport aneka barang modal, barang antara serta teknologi produksi yang dibutuhkan dan berkaitan dengan proyek tersebut. Oleh karena itu, bantuan luar negeri akan memainkan peranan yang sangat penting dalam usaha negara yang bersangkutan guna mengurang kendala utamanya yang berupa kekurangan devisa itu, serta untuk mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonominya.
Secara matematis, model dua kesenjangan secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Kesenjangan atau kendala tabungan. Dimulai dengan suatu persamaan atau identitas dimana arus pemasukan modal (selisih antara eksport dan import) ditambahkan ke sumber-sumber yang dapat digunakan untuk investasi (tabungan domestik), sehingga kendala tabungan investasi dapat ditulis sebagai berikut:
I < F + sY
di mana F adalah jumlah arus pemasukan modal. Seandainya arus pemasukan modal (F) ditambah dengn tabungan domestik (sY), hasilnya lebbih besar dari investasi domestik (I) dan perekonomian itu tengah berada dalam kondisi kapasitas penuh (full capacity), maka bisa dipastikan bahwa tengah terjadi kesenjangan di negara tersebut.

2.      Kesenjangan atau kendala devisa. Jika setiap unit investasi yag dilakukan oleh negara-negara berkembang memiliki pangsa import marginal (marginal import share) sebesar m1, di kebanyakan negara-negara berkembang, pangsanya ini berkisar dari 30%-60% dan kecenderungan marginal terhadap import (marginal profencity to import) akibat naiknya 1 unit GDP (biasanya berkisar antara 10%-15%) lita bri parameter m2, maka kesenjangan devisa itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
(m1-m2) I + m2Y- E ≤ F
Adapun simbol E melambangkan tingkat ekspor eksogen.

Variable F dalam kedua ketidaksamaan diatas merupakan faktor kritis dalam analisis. Jika F, E, dan Y diberikan nilai secara eksogen (ditentukan dari luar) maka hanya salah satu dari kedua ketidaksamaan diatas yang akan menjadi faktor penghambat; tingkat investasi (yang juga merupakan tingkat pertumbuhan output) akan tertekan ke tingkat yang lebih rendah oleh salah satu ketidaksamaan tersebut. Dengan demikian dari penerapan rumus tersebut setiap negara akan diketahui setiap masalah utamanya, apakah itu kesenjangan tabungan domestik atau kesenjangan devisa. Hal lain yang lebih penting menurut sudut analisis luar negeri ini bahwasanya dampak peningkatan arus pemasukan modal akan lebih besar di negara yang tengah mengalami kesenjangan devisa dari pada negara yang mengalami kesenjangan tabungan. Namun hal ini tidak bererti bahwa negara-negara yang mengalami kesenjangan tabungan tidak membutuhkan bantuan dari luar negeri. Model dua kesenjangan ini hanya merupakan suatu metodologi yang bersifat garis besar untuk menentukan kebutuhan serta  kemampuan secar relatif dari masing-masing negara berkembang dalam mengunakan bantuan luara negerinya secara efekktif.
Masalah utamannya adalah perkiraan perhitungan semacam itu sangat mekanistia dan sering dibatasi, baik dalam mengunakan parameter import yang telah ditetapkan terlebih dahulu maupun oleh pengunaan nilai eksport dan pemasukan modal netto yang juga ditetapkan secara eksogen. Dalam kaitannya eksport misalnya, perhitungan tersebut relatif sangat kaku mengingat hubungan liberalisasi hubungan dagang atara negara-negara maju dan berkembang akan lebih mampu mengatasi masalah kekurangan devisa yang dialami negara-negara berkembang itu. Jelas cara ini mudah dibandingkan dengan jika negara itu harus mati-matian mengemis ke negara lain untuk mendapatka bantuan luar negeri semata-mata untuk menutupi kekurangan devisanya. Perubahan parameter-parameter ekspor dan impor melalui pemberlakuan kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang dan negara-negara maju akan dapat menentukan apakah kekurangan tabungan ataukah kekurangan devisa yang menjadi penghambat pertumbuhan output nasional bagi negara-negara yang bersangkutan (namun, dalam kenyataannya, mungkin saja kedua kesenjangan tersebut sama sekali tidak saling menghambat)

Comments

Popular posts from this blog

PENYUSUTAN, AMORTISASI, DAN REVALUASI

REVIEW FILM TURIS ROMANTIS

Hukum Gossen